Spread the loveJAKARTA — Ini bukan sekadar berita. Ini peringatan keras bagi seluruh bangsa. Ketika advokat dan aktivis diserang, maka yang sedang diuji bukan hanya individu— melainkan keberanian negara dalam menjaga keadilan. Sejarah telah membuktikan, kebenaran tidak pernah lahir dari rasa aman. Ia lahir dari keberanian untuk bersuara, bahkan ketika risiko menjadi nyata. Ketua Umum SPASI sekaligus praktisi hukum dari JC Law, Jelani Christo, menegaskan: “Beberapa tokoh perjuangan keadilan yang menyuarakan suara kebenaran adalah Martin Luther King Jr., Nelson Mandela, Yap Thiam Hien,Mahatma Gandhi, Adnan Buyung Nasution dan masih banyak lagi pejuang hak asasi kemanusiaan.” Mereka tidak tunduk pada tekanan. Mereka tidak diam dalam ketakutan. Mereka berdiri—dan mengubah sejarah. Hari ini, semangat itu kembali diuji di Indonesia. Kasus penyiraman air keras terhadap Andrie Yunus menjadi alarm keras bagi negara hukum. Ia adalah Wakil Koordinator KontraS sekaligus advokat yang terus memperjuangkan keadilan. Jelani Christo, yang juga dikenal sebagai advokat dan penggerak advokasi publik, menambahkan: “Salah satunya adalah saat ini yang menjadi korban penyiraman air keras, aktivis Andrie Yunus… seorang aktivis adalah militan dan peduli dengan orang-orang tertindas agar para pencari keadilan mendapatkan keadilan.” Serangan ini bukan sekadar tindak kekerasan. Ini adalah ancaman terhadap keberanian itu sendiri. Ancaman terhadap mereka yang memilih berdiri. Ancaman terhadap mereka yang menolak diam. Dalam situasi ini, SPASI — Solidaritas Pembela Advokat Seluruh Indonesia — tidak boleh menjadi penonton. SPASI harus berdiri di garis depan. Jelani Christo menegaskan dengan tegas: “SPASI hadir dan dibentuk harus mampu menjadi pejuang hak asasi kemanusiaan dan membela orang-orang tertindas. Menjadi pejuang yang peduli, militan, dan luar biasa. Serta harus berani menyuarakan suara kebenaran.” Ini bukan sekadar pernyataan organisasi. Ini adalah panggilan sejarah. Karena ketika pembela hukum diserang— diam adalah pengkhianatan. Dan jika hari ini kita membiarkan ketakutan menguasai, maka besok keadilan akan kehilangan suaranya. Pilihan kita hanya dua: Berdiri bersama kebenaran. Atau menjadi saksi bisu runtuhnya keadilan. Jurnalis: Romo Kefas Post Views: 61 Navigasi pos PERBUATAN MEMBUKA PAKSA PORTAL PENUTUP JALAN DENGAN TUJUAN UNTUK BERWISATA DI PANTAI PADA HARI RAYA NYEPI MASUK DALAM KATEGORI TINDAK PIDANA PENODAAN AGAMA Dialektika Kebebasan dan Koersi Normatif: Tinjauan Filsafat Hukum atas Legitimasi Aturan