Spread the love

49 Warga Binaan Rutan Ambon Dapat Remisi Idulfitri, Bukti Negara Tak Tutup Mata pada Harapan Baru

Ambon – Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah bukan sekadar momentum kemenangan bagi umat Muslim, tetapi juga menjadi titik balik penuh harapan bagi 49 warga binaan di Rutan Kelas IIA Ambon. Di tengah tembok pembatas kebebasan, negara hadir membawa kabar baik: remisi khusus sebagai bentuk penghargaan atas perubahan dan pembinaan yang dijalani.

Remisi ini bukan hadiah tanpa makna. Ia adalah simbol bahwa setiap proses perubahan dihargai. Bahwa di balik kesalahan masa lalu, selalu ada ruang untuk memperbaiki diri—dan negara tidak menutup mata terhadap itu.

Pemberian remisi dilakukan secara selektif, melalui proses administratif dan substantif yang ketat. Hanya mereka yang menunjukkan perilaku baik, disiplin, serta aktif mengikuti program pembinaan yang berhak menerima pengurangan masa pidana tersebut. Dengan kata lain, ini adalah hasil, bukan kebetulan.

Plt. Kepala Rutan Ambon, Jefry Persulessy, menegaskan bahwa remisi bukan sekadar formalitas tahunan.

“Ini adalah bentuk apresiasi atas perubahan nyata. Kami ingin warga binaan tahu bahwa setiap usaha untuk menjadi lebih baik itu diperhitungkan,” tegasnya.

Nada serupa disampaikan Kepala Sub Seksi Pelayanan Tahanan, Rido Sehertian. Ia memastikan bahwa seluruh proses berjalan transparan dan objektif.

“Tidak ada yang instan. Semua melalui verifikasi yang cermat. Mereka yang menerima remisi memang layak,” jelasnya.

Namun lebih dari sekadar pengurangan masa hukuman, remisi ini membawa pesan yang lebih dalam: harapan. Idulfitri identik dengan kembali ke fitrah—dan bagi warga binaan, ini adalah kesempatan untuk benar-benar memulai ulang, bukan hanya secara simbolis, tetapi juga nyata.

Di balik jeruji, proses pembinaan terus berjalan—mental, spiritual, hingga keterampilan hidup. Rutan tidak lagi sekadar tempat menjalani hukuman, tetapi ruang pembentukan ulang karakter.

Pertanyaannya sekarang: setelah kesempatan diberikan, siapa yang siap berubah?

Remisi ini diharapkan menjadi “pemantik api” bagi warga binaan lainnya—bahwa perubahan itu mungkin, dan hasilnya nyata. Disiplin, ketaatan, dan kesungguhan bukan hanya jargon, tetapi jalan menuju masa depan yang lebih baik.

Di Hari Kemenangan ini, pesan yang ingin ditegaskan sederhana namun kuat:
Setiap manusia bisa jatuh, tetapi tidak semua memilih untuk bangkit. Mereka yang menerima remisi hari ini adalah bukti bahwa bangkit itu mungkin.

Jurnalis: Romo Kefas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *