Di Balik Berita yang Ditulisnya, Ada Perjalanan Hidup yang Menempa Romo Kefas
Bogor – Banyak orang mengenal Kefas Hervin Devananda, S.Th., atau yang akrab disapa Romo Kefas, melalui tulisan-tulisannya di media, aktivitasnya dalam organisasi, maupun pelayanannya di tengah masyarakat. Namun tidak banyak yang mengetahui bahwa perjalanan menuju semua itu dibangun melalui proses panjang yang dipenuhi tantangan, pengabdian, dan pergumulan hidup.
Lahir di Jakarta pada 22 Juni 1974, Romo Kefas merupakan anak sulung dari tujuh bersaudara. Sejak usia muda ia terbiasa memikul tanggung jawab keluarga. Pengalaman masa kecil di Bekasi membentuk karakter yang disiplin dan pekerja keras, nilai yang terus dibawanya hingga dewasa.
Pendidikan ditempuh di SDN Bekasi Jaya Indah, dilanjutkan ke SMP Ananda Bekasi, dan SMEA Patriot Bekasi. Setelah menyelesaikan pendidikan menengah, ia sempat bekerja di dunia industri sebagai staf accounting di PT Pelita Enamelware. Kariernya kemudian berkembang ke bidang pengolahan data dan pemasaran. Meski demikian, ia mengaku selalu merasa terpanggil untuk mengabdikan diri di bidang pelayanan dan komunikasi publik.
Panggilan itu mulai diwujudkan melalui pelayanan di GKII El Shadday Bekasi, tempat ia dipercaya memimpin pelayanan pemuda selama hampir satu dekade. Untuk memperdalam pemahaman teologinya, ia melanjutkan pendidikan di Sekolah Tinggi Teologi Victory Jakarta hingga memperoleh gelar Sarjana Teologi pada tahun 2012.
Di saat yang sama, dunia jurnalistik menjadi ruang pengabdian berikutnya. Romo Kefas memulai karier sebagai wartawan di Majalah Fire Magazine, kemudian bergabung dengan Tabloid Bersih dan Tabloid Pelita Kota. Pengalaman tersebut membawanya dipercaya menjadi Pemimpin Redaksi Pelita Nusantara, posisi yang masih diembannya hingga kini.
Menurut Romo Kefas, profesi wartawan tidak sekadar berkaitan dengan penyampaian informasi. Ia memandang media sebagai sarana membangun kepedulian sosial, menyampaikan fakta secara bertanggung jawab, dan menjadi ruang bagi masyarakat untuk memperoleh informasi yang berimbang.
Selain aktif di dunia pers, Romo Kefas juga terlibat dalam berbagai organisasi. Ia pernah memimpin DPC Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) Kota Bekasi, menjabat Sekretaris Jenderal LSM Aliansi Masyarakat Transparansi Indonesia (AMTI), menjadi Dewan Pakar Asosiasi Jurnalis Warga Indonesia (AJWI) Kabupaten Bogor, serta dipercaya sebagai Ketua Pengurus Daerah PEWARNA Indonesia Jawa Barat. Saat ini ia juga menjabat Ketua Presidium Masyarakat Kristen Bekasi dan Direktur LKBH PEWARNA Indonesia, yang bergerak dalam pendampingan hukum bagi insan pers dan masyarakat.
Keterlibatan di berbagai bidang tersebut didorong oleh keyakinannya bahwa pelayanan kepada sesama dapat diwujudkan melalui banyak cara, baik lewat gereja, media, organisasi, maupun kegiatan sosial.
Dalam perjalanan hidupnya, Romo Kefas juga menghadapi berbagai ujian. Pada Maret 2023 ia menjadi korban pembegalan di kawasan Gunung Putri, Bogor. Beberapa bulan kemudian ia menjalani perawatan akibat gangguan jantung yang berujung pada tindakan pemasangan ring jantung. Awal tahun 2024, ia kembali mengalami kecelakaan lalu lintas di ruas Tol Jagorawi.
Serangkaian peristiwa tersebut, menurutnya, menjadi momentum untuk semakin menghargai kehidupan dan memperkuat komitmennya dalam melayani masyarakat.
Di luar aktivitas profesional dan organisasi, keluarga tetap menjadi bagian penting dalam kehidupannya. Bersama istrinya, Tri Satini, dan putra mereka, Vickent Highlander, Romo Kefas mengaku memperoleh dukungan yang memungkinkannya tetap menjalankan berbagai tanggung jawab di bidang pelayanan, jurnalistik, dan kemasyarakatan.
Bagi Romo Kefas, setiap fase kehidupan membawa pelajaran yang berbeda. Masa kecil mengajarkan ketangguhan, dunia kerja mengajarkan disiplin, pelayanan membentuk kerendahan hati, sementara berbagai ujian hidup mengajarkan pentingnya tetap memiliki harapan.
“Setiap orang memiliki perjalanan hidup yang berbeda. Saya percaya bahwa setiap pengalaman, baik yang menyenangkan maupun yang sulit, dapat menjadi pelajaran untuk bertumbuh dan menjadi berkat bagi orang lain,” ujarnya saat berbincang dengan redaksi.
Kini, setelah puluhan tahun berkarya di berbagai bidang, Romo Kefas tetap memandang pengabdian sebagai sebuah proses yang tidak pernah selesai. Baginya, jabatan dapat berganti, tetapi komitmen untuk melayani, menyuarakan kebenaran, dan hadir bagi masyarakat harus tetap dijaga.
Artikel ini disusun berdasarkan penuturan narasumber kepada Redaksi pada 22 Juni 2026 serta data riwayat pendidikan, organisasi, dan pengabdian yang telah dipublikasikan.
