Pdt. Benyamin Lumondo: Pancasila Harus Menjadi Gerakan Kasih yang Nyata, Bukan Sekadar Peringatan Tahunan

Spread the love

Ketua PW PGLII Jawa Barat Menyerukan Kebangkitan Kepedulian Sosial dan Semangat Melayani di Tengah Tantangan Kebangsaan

Bandung, Jawa Barat | Sabtu, 30 Mei 2026 – Menjelang Hari Lahir Pancasila pada 1 Juni 2026, bangsa Indonesia kembali diajak untuk merenungkan makna terdalam dari dasar negara yang telah mempersatukan Nusantara selama lebih dari tujuh dekade.

Di tengah berbagai tantangan global dan nasional, mulai dari ketidakpastian ekonomi, krisis kepercayaan sosial, menguatnya egoisme kelompok, hingga menurunnya budaya gotong royong, Pancasila kembali diuji bukan pada tataran konsep, melainkan pada sejauh mana nilai-nilainya mampu diwujudkan dalam kehidupan nyata.

Banyak pengamat menilai bahwa Indonesia saat ini membutuhkan lebih dari sekadar pertumbuhan ekonomi dan pembangunan fisik. Bangsa ini membutuhkan kebangkitan karakter, keteladanan moral, dan semangat pengabdian yang berakar pada nilai-nilai luhur kebangsaan.

Saat dihubungi Tim Media pada Sabtu siang (30/5/2026), Ketua Pengurus Wilayah Persekutuan Gereja dan Lembaga-Lembaga Injili Indonesia (PGLII) Provinsi Jawa Barat, Pdt. Benyamin Lumondo, S.Th., mengatakan bahwa Pancasila harus menjadi gerakan kasih yang nyata dalam kehidupan masyarakat, bukan sekadar slogan yang dikumandangkan setiap tahun.

Menurutnya, para pendiri bangsa telah mewariskan sebuah fondasi yang luar biasa melalui Pancasila. Namun warisan tersebut hanya akan tetap hidup apabila diterjemahkan dalam sikap dan tindakan sehari-hari.

“Pancasila tidak membutuhkan penghafal yang banyak, tetapi membutuhkan pelaku yang setia. Nilai-nilai luhur bangsa ini harus terlihat dalam cara kita memperlakukan sesama, dalam kejujuran kita, dalam kepedulian kita kepada mereka yang lemah, dan dalam komitmen kita menjaga persatuan,” ujar Pdt. Benyamin.

Indonesia Sedang Menghadapi Krisis Kepedulian

Menurut Pdt. Benyamin, salah satu tantangan yang perlu mendapat perhatian serius adalah mulai berkurangnya kepekaan sosial dalam kehidupan masyarakat.

Ia menilai bahwa perkembangan teknologi dan perubahan pola hidup modern sering kali membuat masyarakat semakin sibuk dengan urusan pribadi sehingga melupakan tanggung jawab sosial terhadap lingkungan sekitar.

“Bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang memiliki gedung-gedung tinggi dan teknologi canggih. Bangsa yang besar adalah bangsa yang rakyatnya masih memiliki hati untuk peduli, tangan untuk menolong, dan keberanian untuk berbuat benar,” katanya.

Ia mengingatkan bahwa semangat gotong royong yang menjadi identitas bangsa Indonesia tidak boleh hilang di tengah perubahan zaman.

Persatuan Harus Dijaga dengan Ketulusan

Pdt. Benyamin menegaskan bahwa persatuan Indonesia merupakan hasil perjuangan panjang yang tidak lahir secara instan.

Karena itu, seluruh elemen bangsa memiliki tanggung jawab untuk menjaga dan merawatnya.

Menurutnya, berbagai perbedaan yang ada di Indonesia seharusnya menjadi kekuatan untuk saling melengkapi, bukan alasan untuk saling mencurigai.

“Jangan biarkan perbedaan menjadi tembok yang memisahkan kita. Jadikan perbedaan sebagai jembatan untuk saling mengenal, saling memahami, dan saling menguatkan. Di situlah nilai luhur Pancasila menemukan maknanya,” tegasnya.

Ia juga mengajak masyarakat untuk lebih bijak dalam menggunakan media sosial dan tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang dapat merusak persatuan.

Gereja Harus Hadir di Tengah Pergumulan Bangsa

Sebagai pemimpin gerejawi, Pdt. Benyamin menilai gereja memiliki peran strategis dalam membangun kehidupan kebangsaan yang sehat.

Menurutnya, gereja harus menjadi bagian dari solusi atas berbagai persoalan sosial yang dihadapi masyarakat.

“Gereja tidak boleh hanya menjadi tempat berkumpulnya orang percaya. Gereja harus menjadi pusat kepedulian, pusat pelayanan, dan pusat lahirnya orang-orang yang memiliki hati untuk bangsa dan negara,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa nilai kasih yang diajarkan Kristus harus diwujudkan dalam tindakan nyata yang membawa manfaat bagi masyarakat luas.

“Iman yang sejati tidak berhenti pada perkataan. Iman yang sejati melahirkan tindakan kasih, kepedulian, kejujuran, dan keberanian untuk menjadi berkat bagi sesama,” katanya.

Indonesia Emas Membutuhkan Generasi Pelayan

Dalam pandangannya, cita-cita Indonesia Emas 2045 tidak akan tercapai hanya dengan melahirkan generasi yang cerdas secara akademik.

Indonesia, kata dia, membutuhkan generasi yang memiliki jiwa pelayanan, integritas, dan semangat pengabdian kepada bangsa.

“Anak-anak muda Indonesia harus disiapkan menjadi generasi yang tidak hanya mengejar kesuksesan pribadi, tetapi juga memiliki kerinduan untuk memberi dampak bagi masyarakat dan bangsa. Pemimpin masa depan harus lahir dari karakter yang kuat dan hati yang melayani,” ujarnya.

Menyalakan Terang di Tengah Bangsa

Menjelang Hari Lahir Pancasila, Pdt. Benyamin mengajak seluruh rakyat Indonesia untuk menjadi bagian dari gerakan kebangsaan yang menghadirkan harapan dan persatuan.

Menurutnya, perubahan besar selalu dimulai dari tindakan-tindakan kecil yang dilakukan dengan ketulusan.

“Jika setiap warga negara menanamkan kasih, kejujuran, dan kepedulian dalam kehidupannya, maka Indonesia akan menjadi bangsa yang semakin kuat. Persatuan tidak dibangun oleh pidato, tetapi oleh tindakan nyata yang dilakukan setiap hari,” katanya.

Menutup pernyataannya, Pdt. Benyamin menyampaikan pesan rohani yang menggugah menjelang Hari Lahir Pancasila.

“Tuhan memanggil kita bukan hanya untuk menjadi penikmat kemerdekaan, tetapi juga penjaga warisan bangsa. Jadilah terang di tengah kegelapan, jadilah pembawa damai di tengah perpecahan, dan jadilah penyalur kasih di tengah dunia yang semakin individualistis. Sebab ketika rakyat Indonesia hidup dalam kasih, berjalan dalam kebenaran, dan melayani dengan ketulusan, maka bangsa ini akan tetap berdiri kokoh, diberkati Tuhan, dan menjadi berkat bagi banyak bangsa,” pungkasnya.

Jurnalis: Romo Kefas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *