Raksha Loka 2026 Hadirkan Ruang Belajar Iklim untuk Generasi Muda Indonesia

Spread the love

Raksha Loka 2026 Hadirkan Ruang Belajar Iklim untuk Generasi Muda Indonesia

JAKARTA — Di tengah ancaman perubahan iklim yang semakin nyata, generasi muda dinilai tidak cukup hanya menjadi penonton atau penerima dampak. Mereka perlu dipersiapkan menjadi pelaku perubahan yang mampu memahami persoalan lingkungan sekaligus terlibat langsung dalam solusi nyata di tengah masyarakat.

Semangat itulah yang dihadirkan dalam Festival Raksha Loka 2026 melalui kegiatan bertajuk “Jelajahi Bentang Alam: Aksi Nyata Generasi Muda Atasi Perubahan Iklim” yang berlangsung di M Bloc Space, Jakarta Selatan, Sabtu (23/5/2026).

Kegiatan yang digagas GEF Small Grants Programme (SGP) Indonesia bersama Detara Foundation tersebut mempertemukan pelajar dari wilayah perkotaan dengan komunitas penjaga bentang alam dari berbagai daerah di Indonesia. Bukan sekadar seminar, para peserta diajak memahami bagaimana masyarakat lokal bertahan menghadapi krisis iklim melalui praktik nyata yang telah mereka jalankan selama bertahun-tahun.

Sebanyak 64 siswa dari 14 sekolah di Jakarta, Bogor, Kota Tangerang, dan Tangerang Selatan mengikuti kegiatan tersebut. Mereka belajar langsung mengenai konservasi sumber daya air, energi terbarukan, ketahanan pangan berbasis komunitas, pengelolaan sampah, hingga perlindungan keanekaragaman hayati.

Koordinator Nasional GEF SGP Indonesia, Sidi Rana Menggala, menegaskan bahwa keterlibatan generasi muda menjadi kunci penting dalam menjaga keberlanjutan lingkungan Indonesia di masa depan.

“Generasi muda tidak boleh hanya menjadi penonton dalam isu perubahan iklim. Mereka harus dipersiapkan menjadi bagian dari solusi dan gerakan perubahan,” ujar Sidi kepada wartawan, Senin (25/5).

Menurutnya, tantangan lingkungan saat ini membutuhkan kolaborasi lintas generasi karena dampak perubahan iklim akan dirasakan langsung oleh anak muda di masa mendatang.

Dalam forum tersebut, para peserta berdialog dengan para penjaga bentang alam dari berbagai daerah seperti Gorontalo, Jawa Tengah, Sulawesi Selatan, hingga Nusa Tenggara Timur. Mereka berbagi pengalaman tentang menjaga sumber mata air, mempertahankan pangan lokal, hingga mengembangkan energi ramah lingkungan berbasis masyarakat.

Bagi para pelajar, pengalaman tersebut menjadi pembelajaran penting bahwa solusi perubahan iklim tidak selalu datang dari konsep besar, tetapi juga dari langkah-langkah sederhana yang dilakukan secara konsisten oleh masyarakat di tingkat akar rumput.

Sementara itu, perwakilan Kementerian Lingkungan Hidup, Siti Mariam, mengatakan bahwa kegiatan seperti Raksha Loka sejalan dengan upaya pemerintah membangun budaya peduli lingkungan di dunia pendidikan melalui Program Sekolah Adiwiyata.

“Perubahan perilaku harus dimulai sejak usia muda. Kesadaran lingkungan perlu dibangun melalui pengalaman langsung agar anak-anak memahami pentingnya menjaga bumi,” katanya.

Festival Raksha Loka 2026 juga menghadirkan berbagai aktivitas interaktif yang membuat isu lingkungan terasa lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari generasi muda. Salah satunya demonstrasi sepeda bekas yang dimodifikasi menjadi pembangkit listrik sederhana untuk mengisi daya telepon genggam.

Selain itu, para siswa turut mengikuti kunjungan ke booth bentang alam, menyusun kampanye singkat tentang solusi iklim, hingga pembacaan Ikrar Generasi Penjaga Loka sebagai simbol komitmen menjaga lingkungan dan masa depan bumi.

Direktur Detara Foundation, Latipah Hendarti, menilai perubahan iklim tidak bisa dihadapi hanya oleh pemerintah atau komunitas tertentu, tetapi membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat, termasuk generasi muda di perkotaan.

“Krisis iklim adalah persoalan bersama. Karena itu kolaborasi lintas wilayah dan lintas generasi menjadi sangat penting untuk menciptakan masa depan yang lebih berkelanjutan,” ujarnya.

Festival Raksha Loka 2026 menjadi bukti bahwa edukasi lingkungan tidak harus selalu berlangsung di ruang kelas formal. Ketika generasi muda dipertemukan langsung dengan para penjaga alam dan praktik nyata di lapangan, lahir pemahaman bahwa menjaga lingkungan bukan sekadar teori, tetapi bagian dari tanggung jawab bersama untuk menjaga kehidupan.

Di tengah ancaman perubahan iklim global, harapan terhadap masa depan bumi kini bertumpu pada keberanian generasi muda untuk bergerak, belajar, dan mengambil bagian dalam perubahan.

Sumber: Yusd
Jurnalis: Romo Kefas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *