Silaturahmi MUI Tak Sekadar Seremonial, PB Formula Dorong Umat Ambil Peran Global

Spread the love

Jakarta, 15 April 2026 — Silaturahmi Nasional Ormas Islam yang digelar Majelis Ulama Indonesia (MUI) kali ini tak berhenti pada tradisi tahunan. Di tengah situasi global yang penuh ketidakpastian, forum ini menguat sebagai ruang konsolidasi umat sekaligus penegasan arah peran ormas Islam ke depan.

Sejumlah tokoh penting tampak hadir, mulai dari Ma’ruf Amin, Anwar Abbas, hingga Kapolri Listyo Sigit Prabowo dan Menteri Agama Nasaruddin Umar. Kehadiran lintas elemen ini memperlihatkan bahwa forum keumatan kini semakin terhubung dengan dinamika kebijakan negara.

PB Formula (Pengurus Besar Forum Ulama dan Aktivis Islam) menjadi salah satu organisasi yang menegaskan pentingnya momentum tersebut. Bagi mereka, silaturahmi tidak boleh berhenti pada simbol persatuan, tetapi harus menjadi pijakan gerakan nyata.

Ketua Bidang OKP dan Pengkaderan PB Formula, Berlianto, menilai umat Islam memiliki tanggung jawab lebih besar di tengah berbagai persoalan global.

“Ini bukan hanya soal berkumpul, tapi bagaimana umat mengambil peran. Persatuan harus melahirkan kekuatan, bukan sekadar wacana,” tegasnya.

Ia menyoroti konflik kemanusiaan di Palestina sebagai ujian nyata bagi solidaritas umat. Menurutnya, sikap diam hanya akan memperpanjang ketidakadilan yang terjadi.

“Ketika dunia tidak adil, umat tidak boleh netral. Harus ada keberpihakan yang jelas terhadap kemanusiaan,” lanjutnya.

Di sisi lain, Menteri Agama Nasaruddin Umar mengingatkan bahwa tantangan ke depan tidak hanya bersifat sosial dan politik, tetapi juga ekologis. Ia menekankan pentingnya membangun hubungan harmonis antara manusia dan alam.

“Kita sering lupa bahwa kita bagian dari alam. Jika alam rusak, manusia tidak akan bisa bertahan,” ujarnya.

Pesan ini menjadi penegasan bahwa arah gerakan umat tidak hanya berfokus pada solidaritas sosial, tetapi juga pada kesadaran menjaga keseimbangan kehidupan secara menyeluruh.

Forum ini memperlihatkan perubahan wajah ormas Islam di Indonesia—dari sekadar penjaga nilai menjadi aktor yang mulai mengambil posisi dalam isu-isu strategis, baik di tingkat nasional maupun global.

Silaturahmi pun kini menghadapi ujian terbesarnya: apakah mampu melahirkan gerakan nyata, atau kembali larut dalam rutinitas tahunan tanpa dampak yang terasa.


Sumber: Zoel
Jurnalis: Romo Kefas
Editor: Tim Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *