Paskah yang Membumi: GSJA Shalom Martajaya Pilih Kesederhanaan, Tekankan Makna Kebangkitan

Spread the love

Pasangkayu, 5 April 2026 — Di saat banyak perayaan Paskah identik dengan kemeriahan dan rangkaian acara yang padat, jemaat GSJA Shalom Martajaya justru mengambil arah berbeda. Ibadah digelar di Pantai Koa-Koa, Kayumaloa, dengan konsep sederhana namun menekankan kedalaman makna kebangkitan Kristus.

Tanpa dekorasi megah dan tanpa sekat formalitas, jemaat berkumpul dalam suasana yang lebih cair dan terbuka. Alam menjadi ruang ibadah, menghadirkan pengalaman spiritual yang lebih jujur—tanpa distraksi, tanpa kemasan berlebih.

Pujian dan penyembahan yang dipimpin oleh Ibu Hermin Kalipung berlangsung dengan nuansa yang tenang dan menyentuh. Jemaat tidak hanya bernyanyi, tetapi terlihat benar-benar menghayati setiap lirik sebagai bentuk doa dan penyerahan diri.

Firman Tuhan disampaikan oleh Ibu Pdt. Mariani Sitorus, S.Pdk., S.Th dengan tema “Yesus Bangkit”, namun dengan penekanan yang berbeda dari biasanya. Ia tidak hanya berbicara tentang peristiwa kebangkitan, tetapi menyoroti bagaimana kebangkitan itu sering kali tidak tercermin dalam kehidupan sehari-hari orang percaya.

Dalam pesannya, ia mengajak jemaat untuk menguji diri: apakah Paskah hanya dirayakan secara rutin, atau benar-benar dihidupi?

“Kita sering merayakan kebangkitan, tetapi masih hidup dalam ‘kebiasaan lama’. Di sinilah kita perlu jujur terhadap diri sendiri,” ungkapnya.

Ia menekankan bahwa kebangkitan Kristus membawa konsekuensi perubahan—bukan hanya secara spiritual, tetapi juga dalam sikap, pola pikir, dan cara menjalani hidup.

Beberapa penekanan penting yang disampaikan:

  • Kebangkitan menuntut kejujuran dalam melihat kondisi iman
  • Iman yang sejati harus berdampak pada perubahan nyata
  • Tuhan memanggil setiap orang untuk keluar dari rutinitas yang kosong makna
  • Paskah adalah momen evaluasi, bukan sekadar perayaan

Suasana ibadah semakin dalam ketika jemaat memasuki sesi doa. Tidak ada suara yang dominan, hanya keheningan yang diisi dengan refleksi pribadi. Di tengah suara ombak, setiap jemaat tampak larut dalam pergumulan masing-masing.

Salah satu jemaat, Bapak Santo, menyampaikan bahwa konsep ibadah seperti ini justru lebih menyentuh. Ia merasa lebih mudah untuk fokus dan merenung tanpa gangguan formalitas.

“Kadang kita terlalu sibuk dengan acara, sampai lupa maknanya. Di sini justru kita diingatkan kembali apa yang sebenarnya penting,” katanya.

Ibadah Paskah ini menjadi penegasan bahwa gereja tidak harus selalu tampil megah untuk menghadirkan hadirat Tuhan. Justru dalam kesederhanaan, pesan kebangkitan menjadi lebih tajam—bahwa setiap orang dipanggil untuk bangkit, berubah, dan menjalani hidup yang baru dengan sungguh-sungguh.

Jurnalis: EL
Editor: Tim Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *