Rote Ndao – Hujan deras yang mengguyur wilayah barat daya Kabupaten Rote Ndao pada Minggu (15/03/2026) siang menyebabkan akses jalan penghubung antara Desa Lekik dan Desa Batutua tidak dapat dilalui.
Kondisi tersebut terjadi akibat luapan air di jalur cross way yang nyaris putus sehingga arus kendaraan terhenti. Warga yang hendak melintas terpaksa menunggu hingga sekitar dua jam sampai debit air berkurang.
Peristiwa ini dialami oleh sepasang suami istri asal Desa Oenggaut, Kecamatan Rote Barat, yakni Semly Adu dan Serly Nalle. Keduanya hendak mengunjungi keluarga di Dusun Sotihu, Desa Lekik, Kecamatan Rote Barat Daya.
Namun ketika tiba di lokasi penyeberangan, banjir yang deras membuat mereka tidak dapat melanjutkan perjalanan.
Melalui sambungan telepon kepada media ini, Serly Nalle menceritakan pengalaman mereka saat terjebak banjir.
“Saat katong (kami) tiba ternyata banjir besar sehingga sonde (tidak) bisa lewat. Jadi katong kembali ke Oederas (Desa Batutua) tunggu sampai dua jam lebih baru balik lagi. Untung ada keluarga datang lihat, jadi rame-rame angkat motor ke sebelah kali,” ujar Serly.
Ia mengaku sangat terharu dengan bantuan warga yang datang menolong mereka.
“Beta ke talalu sedih, Tuhan sa yang balas basodara dong pung bae,” ungkapnya.
Sebelumnya, kondisi jalan tersebut juga telah diberitakan karena dinilai membahayakan masyarakat. Warga menilai pemerintah terkesan tutup mata dan telinga terhadap keluhan masyarakat, sebab hingga saat ini belum terlihat adanya langkah preventif untuk meminimalisir risiko kecelakaan di jalur tersebut.
Bupati Rote Ndao sebelumnya telah dihubungi oleh tim media pada Senin (02/03/2026) melalui pesan WhatsApp. Namun hingga kini pesan tersebut hanya berstatus terkirim tanpa adanya tanggapan.
Bukan hanya akses jalan penghubung desa tersebut, warga juga menyoroti kondisi jalan provinsi sepanjang sekitar 7 kilometer di lingkar Lekik–Dalek Esa yang dibiarkan terbengkalai tanpa penanganan dari pihak terkait.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Rote Ndao, Sony Saban, saat dihubungi melalui pesan WhatsApp menyampaikan bahwa pihaknya masih menunggu laporan resmi dari pemerintah desa maupun kecamatan terkait kondisi tersebut.
“Kami juga menunggu laporan resmi dari pihak Desa Lekik atau Kecamatan RBD agar dapat dimasukkan dalam SK bencana kabupaten,” ujar Sony.
Namun bagi masyarakat, alasan tersebut justru menimbulkan tanda tanya. Warga menilai kondisi jalan tersebut telah lama diketahui dan menjadi akses penting yang menghubungkan beberapa desa, seperti Dalek Esa, Lekik, Batutua, dan Sakubatun.
Masyarakat pun mempertanyakan apakah harus menunggu adanya korban jiwa terlebih dahulu sebelum pemerintah mengambil langkah nyata. Selain itu, kondisi jalan yang rusak juga dikhawatirkan menghambat aktivitas pendidikan para siswa di wilayah tersebut.
Penulis: Oscar Nalle
