JAKARTA — Ada lagu yang cukup didengar, lalu selesai.
Namun ada juga lagu yang memilih untuk tinggal—mengendap, tumbuh, dan perlahan menjelma menjadi cerita.
Di titik itulah Ifan Seventeen berdiri.
Lewat “Jangan Paksa Rindu (Beda)”, ia tidak sekadar merilis karya musik, tetapi membangun ruang—tempat di mana kenangan, kehilangan, dan harapan yang tak sampai bisa “ditonton”, bukan hanya didengar.
Lagu ini sejak awal memang tidak berjalan biasa. Dirilis pada Januari 2026, ia bergerak seperti bisikan yang pelan tapi menetap. Tanpa teriak, tanpa sensasi berlebihan, namun mampu menembus lebih dari 50 juta streaming—sebuah angka yang lahir dari keterhubungan, bukan sekadar algoritma.
Potongan liriknya hidup di media sosial.
Bukan sebagai tren sesaat, tetapi sebagai potongan perasaan banyak orang.
Dan ketika sebagian musisi berhenti di sana, Ifan justru melangkah lebih jauh.
Rindu yang Tidak Selesai di Lagu
Pada 10 April 2026, lagu itu “dilahirkan kembali”—kali ini dalam bentuk visual.
Bukan sekadar video klip, melainkan film pendek yang memberi tubuh pada rasa yang sebelumnya hanya berupa suara.
Bekerja sama dengan produser Avesina Soebli dan sutradara Jastis Arimba, Ifan menyusun narasi yang terasa sunyi namun penuh gema. Tidak banyak dialog, tetapi setiap adegan berbicara.
Kisahnya sederhana, bahkan nyaris terlalu dekat dengan kenyataan:
seorang pria yang tidak benar-benar bisa pergi dari masa lalu.
Ia berjalan, tapi kenangan tetap tinggal.
Ia mencoba lupa, tapi rindu justru menemukan jalannya sendiri.
Di titik tertentu, penonton akan sadar—ini bukan sekadar cerita tentang kehilangan seseorang. Ini tentang bagaimana manusia sering kali tidak siap berdamai dengan perasaan yang belum selesai.
Dan di situlah kekuatan film pendek ini bekerja: ia tidak memaksa penonton memahami, tetapi membiarkan mereka merasa.
Musik yang Tidak Lagi Berdiri Sendiri
Bagi Ifan, langkah ini bukan eksperimen kosong. Ia membaca perubahan zaman dengan jernih.
Musik hari ini tidak lagi cukup untuk didengar. Ia harus punya wajah, punya cerita, punya ruang untuk ditinggali.
Itulah sebabnya “Jangan Paksa Rindu (Beda)” tidak hadir sebagai pelengkap visual, melainkan sebagai pengalaman utuh—di mana audio dan gambar saling menghidupkan.
Peluncurannya pun tidak biasa.
Karya ini diperkenalkan melalui gala premiere di CGV FX Sudirman, Jakarta—sebuah langkah yang terasa seperti pernyataan: bahwa video klip kini bisa berdiri sejajar dengan film.
Ketika Lagu Menjadi Cermin
Ada satu hal yang membuat karya ini terasa berbeda—ia tidak berusaha menjadi besar. Ia justru memilih menjadi jujur.
Dan dari kejujuran itu, muncul sesuatu yang jarang dimiliki banyak karya:
kedalaman.
Karena pada akhirnya, “Jangan Paksa Rindu (Beda)” bukan tentang siapa yang ditinggalkan.
Tetapi tentang bagaimana setiap orang pernah berada di titik yang sama—
mencintai sesuatu yang tidak bisa lagi dimiliki.
Kini, film pendek tersebut dapat diakses melalui kanal YouTube resmi RPM (Royal Prima Musikindo), menjangkau lebih banyak orang yang mungkin… sedang diam-diam merindukan hal yang sama.
Dan mungkin, setelah menontonnya, sebagian dari mereka akan sadar:
rindu tidak selalu harus dipaksakan selesai.
Kadang, ia hanya perlu diberi tempat untuk hidup.
Sumber: Yusd
Jurnalis: Romo Kefas
Editor: Tim Redaksi
Publisher: Tim Cyber
