Pendidikan di Tengah Bencana: Sekolah Bangkit, Tapi Ketimpangan Masih Terasa di Sumatra
Jakarta, garisbatasnews.com — Pemulihan pendidikan di wilayah terdampak bencana di Sumatra mulai menunjukkan kemajuan. Sejumlah sekolah telah kembali menjalankan kegiatan belajar mengajar (KBM) secara tatap muka. Namun, di balik capaian tersebut, persoalan ketimpangan akses dan keterbatasan fasilitas masih menjadi pekerjaan rumah yang belum tuntas.
Di Sumatra Utara, sebagian sekolah sudah mampu bangkit lebih cepat. SD Negeri 158498 Aek Tolang, misalnya, kini telah kembali menjalankan pembelajaran normal sejak awal 2026, setelah sebelumnya sempat menggunakan tenda darurat.
Kepala sekolah, Hayati, mengakui bahwa pemulihan berjalan cukup baik, meski tidak tanpa tantangan. “Kami bersyukur bisa kembali belajar di ruang kelas. Tapi proses pemulihan ini tetap membutuhkan dukungan berkelanjutan,” ujarnya.
Sementara itu, kondisi berbeda masih dirasakan di sejumlah wilayah lain. Di Sumatra Barat, SMAN 1 Batang Anai masih harus menjalankan KBM di fasilitas sementara, termasuk tenda darurat dan bangunan yang belum sepenuhnya layak.
Kepala sekolah, Zulbaidah, menyebut keterbatasan tersebut memengaruhi efektivitas pembelajaran. “Kami harus menyesuaikan durasi dan materi. Yang penting siswa tetap mendapatkan inti pelajaran, meski belum ideal,” katanya.
Situasi ini menunjukkan adanya kesenjangan dalam kecepatan pemulihan antarwilayah. Sekolah yang memiliki akses lebih baik cenderung pulih lebih cepat, sementara lainnya masih berjuang dengan keterbatasan sarana dan prasarana.
Pemerintah memang telah menyalurkan berbagai bantuan, mulai dari pembangunan ruang kelas, perbaikan sanitasi, hingga dukungan kebutuhan siswa. Namun di lapangan, proses distribusi dan percepatan pembangunan masih menjadi tantangan tersendiri.
Selain itu, aspek pemulihan psikologis siswa juga menjadi perhatian. Layanan trauma healing telah diberikan, tetapi belum merata di seluruh wilayah terdampak.
Direktur Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Menengah, Gogot Suharwoto, menegaskan bahwa pemerintah berkomitmen menjaga keberlanjutan pendidikan di tengah situasi darurat.
“Pendidikan harus tetap berjalan. Tidak boleh ada anak yang kehilangan hak belajarnya hanya karena bencana,” ujarnya.
Meski demikian, pengamat menilai bahwa pemulihan pendidikan tidak cukup hanya mengandalkan perbaikan fisik. Diperlukan strategi yang lebih merata dan berkelanjutan agar tidak terjadi kesenjangan kualitas pendidikan antarwilayah.
Pemulihan pendidikan di Sumatra hari ini memang menunjukkan harapan. Namun di saat yang sama, ia juga membuka realitas bahwa akses pendidikan yang setara masih menjadi tantangan besar, terutama di wilayah yang paling terdampak.
Jurnalis: Romo Kefas
Editor: Tim Redaksi
