Spread the love

BEKASI — Malam itu, suara langkah kaki, tabuhan, dan sorak pelan mengiringi arak-arakan ogoh-ogoh di kawasan Bekasi Barat. Api menyala, bayangan raksasa menari di jalanan, seolah menggambarkan pergulatan batin manusia.

Namun di balik suasana yang tampak “garang”, ada pesan yang justru menenangkan: tentang damai, tentang menahan diri, tentang hidup berdampingan.

Perayaan Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1948 di Pura Agung Tirta Buana bukan hanya menjadi milik umat Hindu. Ia menjelma menjadi panggung kebersamaan seluruh warga Kota Bekasi.

Yang membuatnya terasa istimewa, momentum ini hadir bersamaan dengan bulan suci Ramadan.

Di satu sisi, ogoh-ogoh diarak sebagai simbol pelepasan sifat buruk. Di sisi lain, umat Muslim sedang belajar menahan hawa nafsu melalui puasa.

Dua jalan spiritual yang berbeda—namun bertemu pada tujuan yang sama: pengendalian diri.

Wali Kota Bekasi, Tri Adhianto, yang hadir membuka pawai, melihat momen ini sebagai cermin kekuatan sosial yang jarang disadari.

“Bukan soal siapa yang berbeda, tapi bagaimana kita tetap bersama dalam perbedaan itu,” ujarnya.

Di tengah arus kota yang dikenal padat dan keras, malam itu Bekasi seperti “melambat”. Warga menepi, memberi ruang. Tidak ada gangguan, tidak ada penolakan.

Yang ada justru saling menjaga.

Fenomena ini menjadi kontras dengan berbagai narasi perpecahan yang kerap muncul di ruang publik. Bekasi justru menunjukkan bahwa toleransi tidak butuh panggung besar—cukup kesadaran sederhana untuk saling menghormati.

Sebelumnya, perayaan Cap Go Meh juga berlangsung meriah tanpa hambatan. Kini, Nyepi yang berdampingan dengan Ramadan semakin menegaskan satu hal penting:

kerukunan di Bekasi bukan sekadar wacana—tetapi kebiasaan.

Tri Adhianto pun berharap nilai ini tidak berhenti pada seremoni.

“Kalau harmoni ini terus dijaga, Bekasi bukan hanya kota besar, tapi juga kota yang dewasa secara sosial,” tegasnya.

Di tengah dunia yang sering terpecah karena perbedaan, Bekasi justru memberi pelajaran sederhana:

bahwa damai itu tidak harus sama—cukup saling memahami.


Jurnalis: Romo Kefas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *