Spread the loveYogyakarta – Banyak yang merayakan Paskah dengan ibadah dan seremoni. Tapi Youth & Teens GBI Aletheia Tirtakencana Yogyakarta memilih melangkah lebih jauh: mereka menjadikan kebangkitan Kristus sebagai gerakan nyata kasih. Sabtu, 11 April 2026, sejak pagi hari, semangat itu sudah terasa. Mengusung tema “One Heart in Resurrection – Satu Hati dalam Kebangkitan”, generasi muda ini tidak hanya berkumpul—mereka bergerak. Kegiatan dibagi di dua titik: sekretariat sebagai pusat ibadah dan kebersamaan, serta Panti Asuhan Buah Hati sebagai pusat pelayanan kasih. Dari pukul 08.00 hingga 11.00 WIB, suasana bukan hanya ramai—tetapi hidup, hangat, dan penuh makna. Yang mengejutkan, seluruh kegiatan ini bukan hasil sponsor besar atau dukungan eksternal. Semua lahir dari swadaya para youth dan teens sendiri. Mereka memberi, mereka bekerja, mereka melayani. Sebuah tamparan halus bagi banyak generasi yang menunggu tanpa bergerak. Di bawah komando Mas Ardi dan Mas Stefanus, serta sinergi Mbak Vio dan Mbak Wanda, acara berjalan bukan hanya rapi—tetapi terasa “hidup”. Tidak ada jarak, tidak ada formalitas kaku. Yang ada hanyalah kebersamaan yang tulus. Dalam renungannya, Abah Daniel menyampaikan pesan yang tajam: bahwa kebangkitan tidak akan pernah nyata tanpa perubahan hidup. Ia menegaskan, banyak orang berbicara tentang Paskah, tetapi tetap hidup dalam luka yang sama, pola yang sama, bahkan cara pandang diri yang rusak. “Kalau tidak ada pembaruan, maka kebangkitan hanya jadi slogan,” kurang lebih pesan yang menggugah itu. Karena itu, ia mengajak seluruh youth & teens untuk berani melepaskan diri dari belenggu luka batin dan identitas diri yang keliru—agar bisa benar-benar hidup dalam kasih, bukan sekadar mengerti kasih. Momen paling mengharukan terjadi di Panti Asuhan Buah Hati. Saat Youth & Teens bertemu anak-anak panti, tidak ada sekat. Yang terjadi adalah percampuran hati—tawa, permainan, dan pelukan hangat yang tidak dibuat-buat. Pdt. Samuel Soleman bersama Ibu Telly menyambut dengan penuh sukacita, menyaksikan bagaimana generasi muda ini tidak hanya datang, tetapi benar-benar hadir. Dipandu Mbak Wanda dan tim, suasana berubah menjadi satu keluarga besar. Tidak ada “kami” dan “mereka”. Yang ada hanyalah satu identitas: saudara dalam kasih Kristus. Di titik itulah Paskah menemukan maknanya yang paling nyata. Bukan di mimbar. Bukan di kata-kata. Tetapi di hati yang mau berbagi. Perayaan ini menjadi pengingat keras namun indah: bahwa kebangkitan Kristus bukan untuk dikenang setahun sekali— melainkan untuk dihidupi setiap hari. Dan di Yogyakarta, generasi muda ini telah membuktikan— bahwa kasih yang bangkit, tidak akan pernah tinggal diam. Sumber: Abah Daniel Jurnalis: Romo Kefas Editor: Tim Redaksi Post Views: 34 Navigasi pos Dari Singkup, Guru Belajar Memimpin: Ikhtiar Sunyi Meningkatkan Mutu Pendidikan Cinta yang Dipersatukan dalam Iman: Kisah Sakral Junli Momongan dan Irene Laoh di Lalow